Apakah harus bawa alat coblos sendiri ke TPS?

Apakah harus bawa alat coblos sendiri ke TPS?

Seorang pria paruh baya mengangkat tangan. Tambun dan menggunakan kaos brimob. Saya bergumam dalam hati, jangan-jangan dia Babinkamtibmas (polisi) di Desa itu.

“Jadi begini Pak, Bapak tadi jelaskan bahwa kita akan membawa masing-masing pulpen ke TPS, jadi bagaimana kalau dengan alat coblos? Sebab sama-sama kita akan pegang secara bergantian, dan karena itu sama-sama potensial jadi medium transmisi virus”? tanyanya mendalam.

Sore itu cuaca Selayar panas, mendung tapi hujan tak kunjung turun ke bumi. Saya baru saja duduk di kedai kopi di bilangan pasar lama. Tepat disudut timurnya.

Di kedai kopi itu, kami seperti reuni. Ada Ruslan, Dul, Acca, Fandi, Patri dan beberapa yang lain. Ya mungkin reuni kecil. Kami semua luaran millennium, lulus di SMA 1 Benteng tahun 2000.

Tapi tidak sekedar reuni. Lebih dari itu, kami mendiskusikan mobil ambulance. Tapi belum kelar pembahasan, ponsel saya sudah berdering. Tahir, staf KPU Kepulauan Selayar sudah mau menjemput saya untuk diantar ke Desa Buki Timur.

“Saya jemput ki Pak di rumah” demikian Tahir menelpon.

“Begini Tahir, saya minta tolong, ambilkan sepatuku di rumah, saya tunggu di kompleks pasar lama, baru kita berangkat ke Buki Timur” jawabku.

Kami berangkat melalui jalur Barat Onto – Balang Butung – Buki Timur. Akhirnya tiba hampir pukul 17.00. Dikiranya rute itu lebih dekat ke lokasi. Rupanya jauh, karena memutar. Ya sudahlah.

Cas cis cus, kurang lebih 15 menit. Selebihnya memberikan kesempatan peserta sosialisasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) untuk bertanya, menyanggah dan memberikan tambahan.

Saya sampaikan bahwa, secara garis besar Pilkada tahun ini terdiri dari dua aspek; teknis dan protokol Covid-19. Aspek teknis tidak ada yang signifikan, kecuali di sistem informasi penghitungan suara (situng) yang berganti sirekap. Ya, beberapa formulir berubah namanya. Seperti formulir C6 berubah jadi formulir C pemberitahuan memilih.

Kedua, aspek protokol Covid-19. Ini yang sama sekali baru. Waktu kedatangan akan diatur dalam C pemberitahuan. Menggunakan masker, akan di chek suhu tubuh, menggunakan sarung tangan sekali pakai, membawa pulpen sendiri ke TPS, jaga jarak di dalam TPS, dan tinta yang sebelum-sebelumnya dicelupkan kini akan ditetesi oleh petugas.

Ketika sesi tanya jawab, muncullah pertanyaan diatas. “Apakah harus bawa alat coblos (paku) masing-masing dari rumah, sebab kita juga takut jangan sampai ada yang terkena virus lalu pegang alat coblos, virus bisa menyebar”? tanyanya.

Saya jelaskan begini ke Bapak itu. Memang, di TPS disediakan alat coblos, jadi tidak perlu bawa paku dari rumah masing-masing seperti bawa pulpen.

Step pertama, bapak akan di chek suhu tubuhnya. Apakah tidak lebih dari 37,2 derajat. Setelah chek suhu tubuh, pemilih dipersilakan mencuci tangan ditempat yang telah disediakan. Berikutnya, petugas akan membagikan sarung tangan, mengisi absen dan masuk keruang tunggu.

Karena sudah cuci tangan dan menggunakan sarung tangan, asumsinya sudah steril. Jadi ke bilik suara sudah dianggap steril. Demikian juga ketika memegang alat coblos dilakukan secara tidak langsung karena menggunakan kaos tangan sekali pakai yang akan dibuang setelah keluar dari TPS.

Kira-kira begitu penjelasan yang saya berikan sore itu di Balai Desa. Cukup banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak terduga mencuat kepermukaan. Misalnya, ini kan mau menulis daftar hadir sendiri.

Tekamua Pak Ampa to tepok potolokna”? (bagaimana Pak kalau orang buta huruf) apakah harus tulis namanya sendiri?

Sambil berkelekar, saya bilang ke peserta pertemuan, ampa to tepok potolokna suro sambungi (kalau buta huruf minta tolong).

Menjelang magrib kami balik ke Benteng.

moel

I'am a socioeconomist, (etnografi) marketing, participatory trainer and election specialist.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *