Secangkir Kopi di Acci Callaccu

Secangkir Kopi di Acci Callaccu

Beberapa foto kegiatan dari menfasilitasi pelatihan Relawan Demokrasi di Belopa (Kabupaten Luwu) saya unggah ke media sosial.

Siang itu saya sudah berencana balik ke Makassar sambil singgah terlebih dahulu di Wajo. Ada beberapa kolega yang mengajak diantaranya Hadisra dan Irwan.

Hadisra adalah adik angkatan saya di Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Sementara Irwan, aktivis LMND dan teman semasa menimba ilmu kanuragan di Yogyakarta. Juga memulai aktivismenya di IPM.

“Ditunggu di Wajo, Kamered” ujar Irwan dalam komentarnya.

“Baik, Kamered” jawab saya singkat.

Kami lalu bertukar nomor ponsel. Begitu sampai di Wajo saya lalu menghubungi keduanya. Kami janjian ketemu di sebuah kedai kopi. “Acci Callacu” begitu nama kedai kopi yang disebut Hadisra.

“Jl. H. Andi Ninnong, Depan Masjid Nurul As’adiyah. Dekat terminal, kak” demikian Hadisra memberi alamat kepada saya.

Menjelang waktu dzuhur, saya sampai dikedai kopi yang dimaksud. Meletakkan ransel kecil yang berisi pakaian dan laptop.

“Lama kita tidak ketemu Kak Mul” ujarnya sembari menjabat tangan saya.

“Iya, terakhir barangkali waktu masih sering ke Pusdam tahun 2006 apa 2007 ya” balasku.

Kami lalu ngobrol-ngobrol, bagaimana ia ikut seleksi KPU hingga masuk 10 besar dan akhirnya harus tersingkir.

“Apa ya salah saya, katanya. Saya juga aktif digerakan, pernah jadi penyelenggara Pemilu tingkat kecamatan, pernah JPPR, belajar llmu Hukum di Unhas, dll” tanyanya kepada saya.

“Mungkin, belum garis tangan. Alias takdir. Saya yakin kamu punya ruang yang lain, mungkin bukan di KPU” ujarku memberi pertimbangan.

Akhirnya adzan dzuhur berkumandan. Kami lalu bergegas ke masjid yang persis di depan kedai kopi ini.

Usai sholat, kami masih ngobrol. Irwan juga sudah datang. Dengan Irwan saya bicara romantika Yogyakarta, bagaimana mengorganisir massa, menggerakkan aksi, dan seterusnya.

***

Oh iya, saya lupa bahwa saya mesti cerita mengenai kedai kopi ini. Usai pertemuan di kedai kopi itu, saya berkomunikasi dengan pemiliknya. Senior saya di IPM Sulsel, kanda Asrijal Bintang.

Saya tanya bagaimana historis kedai kopi itu. Ia lalu menjelaskan panjang lebar, termasuk filosofi nama dari kedai kopinya.

“Acci Callacu itu dari kata Acci yang merupakan nama akrab saya waktu masih kecil. Sementara Callacu itu adalah lokasi tempat kedai ini berdiri” jelasnya.

“Saya kan memang juga suka kopi ketika di Makassar. Sempat balik ke Wajo dan terpikir, mengapa tidak mendirikan kedai saja, sembari menyalurkan jiwa wirausaha yang bergejolak”? tambahnya.

Kedai ini didirikan sejak 2018 dengan menyewa rumah toko (Ruko) didekat terminal Sengkang, Wajo. Saat memulai, bisnis minuman ini masih menggunakan satu lantai. Tetapi seiring berjalannya waktu, sekarang sudah dimanfaatkan semua ketiga lantai Ruko itu. Usaha kemudian merambah ke resto dan cuci pakaian (laoundry).

“Komunitas [bola] Juventus, vespa dan beberapa elemen pemuda sering menggunakan tempat ini sebagai basecamp” tuturnya.

Ia pun berharap bahwa dengan perkembangan bisnisnya, secara mandiri bisa memiliki lokasi sendiri yang tidak lagi disewa dari orang lain. Sebab bisa mengurangi fixed cost.

Kedai ini menyajikan beragam kopi nusantara, minuman dingin hingga makanan berat. Termasuk kue-kue khas bugis seperti barongko, bolu, dan lain-lain.

Jadi jika mau mencoba space meetingatau sekedar menikmati kopi disore hari yang teduh. Cobalah jajal kedai kopi Acci Callacu di Kota Sengkang.Terimakasih puang Rijal, atas jamuan kopinya, Kamered Irwan dan Hadisra untuk waktunya ngobrolngarol ngidul, nggamping dkk. Semoga bisa bersua dilain waktu. Sukses bisnis kulinernya ya Bang Rijal.

moel

I'am a socioeconomist, (etnografi) marketing, participatory trainer and election specialist.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *