Tugas Kita Memakmurkan Bumi

Tugas Kita Memakmurkan Bumi

Ia tampak antusias menjelaskan tentang proses restorasi terumbu karang. Sebuah video ia tayangkan. Sembari menunjuk point-point penting pengalamannya menggerakkan pengawasan sumberdaya pesisir berbasis masyarakat.

“Tahun 80-an, kondisi lingkungan laut Desa Pemutaran, Buleleng ini parah sekali” ujarnya sembari menunjukkan slide yang berisi foto-foto kondisi karang yang hancur.

Itu terjadi dengan pengeboman dan bius (sianida) yang dilakukan nelayan. Mereka menangkap ikan dengan merusak. Akibatnya, terumbu karang hancur. Ikan semakin sulit didapatkan.

Saya senang hari itu, 20 Mei 2017. Bli Komang Astika dan Made Gunaksa mengantarkan saya pada Selayar di era 80-an. Menyusuri lekuk-lekuk pesisir pulau yang dijuluki Tanadoang ini.

Di forum workshop yang dihelat CCRES, The University of Quensland dan LIPI itu, saya mempertanyakan kembali, apa yang bisa dilakukan? Bersama teman-teman pelaku wisata bahari dan konservasi kami merumuskan agenda-agenda jangka pendek dan pikiran-pikiran jangka panjang yang mungkin dikerjakan.

Beranjak dari pikiran-pikiran itulah, saya mulai mencari cara bagaimana melakukan sesuatu yang bermakna bagi aktivitas hobby dan kegiatan yang bermanfaat. Akhirnya diawal tahun 2018, saya mencoba menyisihkan sedikit rezeki. Beberapa anak muda saya ajak serta; Hasbi, pemuda asal Pulau Gusung, Collong (Rahmat Hidayat), Adrianto dan Kifli. Belakangan bergabung juga Akbar saat kami membuat rangka laba-laba di homebase Selayar Marine Dive (SMD).

“Col, beli besi di toko bangunan, ya. Ukurannya sesuaikan untuk rangka laba-laba” ujarku meminta bantuan Collong.

“Baik Kak Mul”, jawab Collong singkat.

Sore, akhirnya besi diantar pihak toko bangunan. Saya coba menggambar modelnya dikertas. Mendiskusikan ukuran lingkar dan tingginya. Akhirnya ketemu formulanya. Dan mulailah Kifli memotong-motong besi dengan lasnya.

Kifli memiliki kecakapan dalam hal perbengkelan. Tapi dilaut dalam urusan selam menyelam ia dengan Hasbi payah sekali. Waktu ambil sertifikasi A1 (Open Water Diver), saya terpaksa berdua dengan Akbar membawanya turun ke dasar.

“Sakit kaki ku” ujarnya ngeles ketika diminta oleh asisten instruktur untuk latihan lagi. “Saya kehilangan nafas” jelas Hasbi berargumen. Dan kami pun tertawa terbahak-bahak dengan alasan itu. Tetapi seiring waktu, kepercayaan diri mereka mulai tumbuh.

Ada 10 (sepuluh) rangka yang kami buat saat itu. Setelah semuanya kelar, kami bawa rangka-rangka itu ke Pantai Punagaan, Desa Patilereng. Di sana rangka itu akan kami pasang transplantasi terumbu karang.

Pilihan desa itu juga didasari pertimbangan bahwa, ada anak di desa itu yang sudah bisa menyelam untuk memonitor perkembangan transplantasi karang yang dilakukan.

Alhamdulillah, meski kecil-kecil sudah bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat. Terakhir saat saya pulang kampung – Kepulauan Selayar – tahun 2019, sempat menyelam dan melihat pertumbuhan karang yang lumayan baik; sehat.

Semoga usaha kecil-kecilan ini bisa bermanfaat memakmurkan dan menjaga bumi Allah Swt. Sebatas yang bisa dilakukan dan kemampuan alakadarnya.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al-A’raf [7]: 56).

Wa’allahu A’lam Bisshawab

Kifli & Akbar

moel

I'am a socioeconomist, (etnografi) marketing, participatory trainer and election specialist.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *