Keliling Ternate

Di awal bulan April yang lalu saya melakukan perjalanan ke Ternate. Kami satu rombongan kurang lebih delapan orang dari Jakarta. Penerbangan tengah malam dari Soekarno-Hatta Intl Air Port. Kami tiba pagi dan dijemput oleh panitia lokal lalu diantar untuk sarapan di rumah makan al-hikmah, kalau tidak salah tempat ini tidak jauh dari RSU Korem 152 Babullah. Rumah makannya ramai. Kami makan nasi kuning dengan ikan.

Usai makan siang kami menuju penginapan. Rani yang mengurus penginapan segera melakukan koordinasi dengan hotel. Memastikan apakah kami sudah bisa langsung chek in atau belum karena waktu belum menunjukkan pukul 12.00 WIT. Soalnya kami sudah kelelahan dengan penerbangan dari Jakarta. Setelah koordinasi dengan marketing hotel, akhirnya kami di izinkan menempati kamar yang sudah dipesan.

Saya kemudian istirahat, menyetel alarm pukul 11.30 WIT. Hari itu hari jum’at, jadi tidak bisa tidur terlalu lama. Yang penting bisa sekedar melepas lelah. Bangun tepat pada saat alarm bunyi dan bergegas ke Masjid di dekat penginapan.

Hari Sabtu – kami menyelenggarakan fokus group disccusion dengan stekeholder kepemiluan di Maluku Utara. Acaranya berlangsung hingga siang. Saya memimpin diskusi tersebut, di sela diskusi itu saya posting foto ke facebook.

“ha..ha….enak to keliling mulu” komentar bung Jhe.

“Iya bung, saya lagi di Ternate” jawabku.

Ia mention seorang. Tidak lama kemudian seorang meneleponku dari nomor yang tidak di save.

“Saya Nyong, anak Genpi Maluku Utara” ujarnya mengenalkan diri.

“Oh iya, temannya Jhe ya?” ujarku bertanya.

“Iya benar Mas, kalau kegiatannya sudah selesai, ayo kita jalan-jalan Ternate?” ajaknya.

“Ahsyiap” jawabku dari balik telepon.

“Baik, pukul 15.00-an ya saya sampai hotel” terangnya.

Sore itu tim kami memang merencanakan jalan-jalan. Sembari menunggu teman lainnya di lobby, saya ngobrol-ngobrol dengan Thariq dan Andika. Nyong pung datang dengan motornya. Dan kami naik motor keliling Ternate sore itu. Uasyik kan?

Karena tidak pakai helm, kami mencari jalan yang memungkinkan dan tidak pakai helm. ha..ha.. ampun pak polisi. Kami tidak pakai helm naik motor. Berikut ini tujuan kami jalan-jalan sore itu.

Benteng Toloko

Benteng ini merupakan peninggalan Portugis yang terletak di Ternate Utara. Kami meminta izin masuk kepada penjaganya. Ia lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa ternate yang saya tidak mengerti. “Boleh katanya, nanti sumbangan se ikhlasnya” terang Nyong. Kami lalu masuk dan foto-foto di kawasan benteng itu. Dari atas benteng itu, kita bisa melihat pemandangan laut yang indah dengan latar Pulau Halmahera, Tidore dan Maitara. Sungguh pemandangan yang asyik sore itu. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.

Batu Angus

Situs batu angus merupakan hamparan batu yang disebabkan oleh erupsi Gunung Gamalama dimasa lalu. Bebatuan hasil muntahan Gunung Gamalama yang menumpuk disisi utara pulau inilah kemudian orang Ternate menyebutnya dengan Batu Angus. Batunya memang hitam, bekas dari perut Gunung Gamalama yang meletus kira-kira pada Abad ke-17.

Danau Tolire

Dari batu angus motor kami bergerak menuju sisi barat pulau. Sore itu seorang dari Manado mengikuti kami. Ia juga naik motor sendirian. Karena tidak tau jalan, ia bersama-sama dengan kami keliling dan singgah di titik-titik persinggahan kami. Dan tujuan kami berikutnya adalah singgah di Danau Tolire. Danau ini menurutku tidak bisa dilepas dari aktivitas geologi Gunung Gamalama di masa lalu. Salah satu keunikan di danau ini ialah kalau melempar batu, menurut orang sana tidak akan sampai ke dasar. Saya tidak menanyakan panjang lebar alasannya. Karena sore itu kami tidak bisa lama di sana, kami harus bergeser lagi ke arah selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *