Labolontio dan Serang di Selayar

Sembari nonton TV, saya berkomunikasi melalui jalur Whatsapp dengan teman yang saat ini bermukim di Sidoarjo, Jawa Timur. Kebetulan ia suka dengan sejarah. Meski pendidikan formalnya adalah bidang teknik penerbangan (aeronautika).

Polong – bahasa Selayar, artinya kira-kira kawan – pernah dengar cerita-cerita mengenai “serang” atau bajak laut yang pernah menganeksasi Kepulauan Selayar?” tanya saya.

Hal ini saya tanyakan karena pernah dalam suatu fase, Selayar dikuasai – mungkin lebih tepat disebut ‘dirampok’ – oleh serang. Bahkan, cerita mengenai kekejaman serang ini dituturkan secara turun temurun di Selayar. Dan acap kali anak-anak kecil saat itu ditakut-takuti misalnya, “jaga ko, la alleko serang (awas, di ambil orang serang)”.

Bahkan kecenderungan perkampungan dibeberapa wilayah di Selayar yang tersembunyi seperti Bitombang, Bissorang, Hulu’, Sinagara (sekarang Kadieng-Kilo Tepo’), Dodaiya, Bahorea Toa dan kampung tua Biring Balang di Bukit Lantibongan dan sejumlah kampung serupa. Meski penjelasan tentang ini masih perlu diverifikasi, tetapi kenyataan bahwa kampung-kampung tersebut berada di lokasi yang jauh dari pesisir sebagai upaya bertahan dan berlindung dari serangan orang serang.

Bahkan beberapa sumber tutur – perlu studi pendalaman – yang pernah saya dengar, dimasa serang inilah sebagian penduduk di Barang-Barang, Lowa bermigrasi ke Wotu untuk menghindari kekejaman dan kekerasan yang dilakukan oleh orang serang itu.

Penyeledikan tentang orang serang ini tentu jadi menarik. Siapakah sebenarnya (asal usulnya)? Dan dalam fase atau tahun berapa kejadian itu?

Sampailah saya pada satu nama yang saya baca dalam sejarah Buton (Zuhdi, 2010). Nama itu ialah Labolontio.

Terdapat dua versi mengenai Labolontio ini. Pertama, versi yang mengatakan bahwa Labolontio ini berasal dari Moro di Pulau Mindanao, Filipina. Mengingat suku Moro ini juga merupakan salah satu suku bangsa pelaut yang gigih dan dapat beradaptasi diberagam tempat yang mereka diami. Bahkan saat ini orang-orang Moro dikenal sebagai bajak laut yang sering beroperasi di perairan laut Filipina Selatan.

Tapi apa betul yang dimaksud itu adalah Moro yang di Filipina atau tidak? Wallahua’lam, tetapi di Maluku Utara juga ada kerajaan Moro (Moro daratan: Morotia dan Moro kepulauan: Morotai).

Kedua, sumber yang mengatakan bahwa Labolontio ini berasal dari Tobelo, di Maluku Utara. Penjelasan ini juga disebut dalam manuskrip Buton. Di negeri asalnya ia dikenal “kapita Labolontio”. Sumber tersebut juga mengatakan bahwa Labolontio merupakan seorang laksamana laut pada era Sultan Babullah (1570-1583).

Dalam keterangan Amal (2006: 123) bahwa yang melakukan penyerangan ke desa-desa di wilayah Kabaena dan Selayar yaitu Sultan Jailolo. Berikut saya kutipkan:

Sultan Jailolo, dalam sebuah ekspedisi dari Maba, dituduh mengirim armada yang dipimpin Sangaji Lapas – terdiri dari orang-orang Maba, Patani, dan Tobelo – ke Selat Buton untuk mencegat perahu-perahu niaga. Armada ini kemudian bergerak ke Pulau Kabaena dan Selayar untuk menyerang dan merampok desa-desa yang ada di sana.

Meski penjelasan diatas tidak implisit menyebut Labolontio, tetapi upaya penyerangan dan perampokan di desa-desa dalam wilayah Pulau Kabaena dan Pulau Selayar menandakan bagaimana kondisi kepulauan itu dimasa orang serang. Ini akrab didengar dalam cerita-cerita orang Selayar mengenai kekejaman orang serang yang pernah menganeksasi Tanadoang.

Keterangan bahwa Labolontio ini berasal dari Tobelo juga dibenarkan oleh teman saya itu. Saya juga meyakini, bahwa berdasarkan beberapa dokumen, Labolontio ini berasal dari Tobelo.

Dalam bukunya “Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950” M. Adnan Amal menulis bahwa pada tahun kesepuluh bertakhta, Babullah telah menganeksasi Buton dan Selayar. Dan setelah Selayar menjadi bagian dari Ternate, Babullah lalu membangun kesepakatan dengan Gowa mengenai persekutuan Kesultanan Ternate dan Gowa. Syaratnya ialah Raja Gowa masuk Islam dan operasi Portugis – termasuk penyiaran agama Kristen – dalam wilayah Gowa dilarang. Dalam rangka menandatangani traktak inilah Babullah ke Makassar.

Inilah juga yang menjadi penjelasan, mengapa Selayar jauh lebih dahulu masuk Islam ketimbang Gowa. Hal ini dibuktikan dari situs Masjid Tua di Gantarang yang umurnya lebih tua dari Masjid Tua di Katangka, Gowa.

Praktik kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh orang serang inilah yang kemudian memaksa banyak penduduk Selayar menggeser pemukimannya kearah bukit yang tersembunyi untuk menghindari perampokan oleh bajak laut atau pasukan dari Labolontio ini. Hal itu dilakukan sebagai upaya adaptasi dan bertahan dari ancaman kekerasan dan kekejaman yang dipraktikkan oleh serang.

Lebih lanjut, akibat fase sejarah ini, belakangan Selayar cenderung mengalami dualisme identitas: antara yang agraris dan maritim. Fenomena ini pernah ditulis secara singkat oleh kanda M. Ihsan Maro di media sosial (facebook) miliknya. Tetapi apakah hal itu yang jadi penyebabnya? Tentu perlu penelusuran ilmiah.

“Sejarah maritim Selayar memang belum banyak digali. Atau bisa jadi fungsi maritim Selayar sudah lama menurun sejak lama. Pertama, dalam perdagangan rempah, saat Prancis berhasil mengembangkan cengkeh di koloninya di Afrika, rempah-rempah di timur Nusantara pun menurun gregatnya. Ini berpengaruh pada volume pelayarna yang singgah di Selayar. Kedua, pasca perang Makassar ada pembatasan berlayar yang dilakukan Belanda di Selayar” itu penjelasan teman saya dari Sidoarjo, Amrang.

Tentu ini tantangan buat kita semua orang Selayar, khususnya pemerintah daerah untuk menggali sejarah Selayar dengan menghadirkan fragmen-fragmen penting dalam perjalanan historiografi Selayar. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *