Ziarah Ke Kampung Bung Hatta

Pertengahan Juli kami ke Padang, Sematera Barat dalam rangka kegiatan kantor sekaligus mengunjungi teman – Fadil Ramadhani, staf Perludem – yang juga pada saat bersamaan melangsungkan pernikahan.

Saya berangkat tgl 18/7 pagi dari Makassar. Jadi pukul 07.30 WIB saya sudah tiba di Soetta. Keluar dari pintu kedatangan saya langsung masuk kembali untuk chek in. Penerbangan ke Padang kurang lebih pukul 11.20 WIB. Artinya saya mesti menunggu 2 (dua) hingga 3 (tiga) jam lagi. Setelah chek in, saya lalu menuju lounge Garuda. Di sana saya bisa sedikit rileks, minum kopi, baca koran dan buka laptop.

Saya sudah mengarrange waktu dan tempat yang cocok untuk jalan-jalan di Sumbar. Di mobil dalam perjalanan ke penginapan; Saya, Pak Dewo dan Pak Hilton ngobrol. Salah satu yang kami obrolkan adalah soal tujuan jalan-jalan yang cocok dengan waktu yang sempit. Dari obrolan kami, disimpulkan bahwa kami bertiga akan ke Bukittinggi di hari terakhir, yaitu tanggal 20/7. Oleh karena tanggal itu, jadwal penerbangan kami ke Jakarta pukul 08.00 WIB, maka perlu di ubah ke pukul 22.00 WIB agar kita leluasa jalan-jalan. Maka setelah acara, tgl 19/7 Pak Hilton segera mengurus perubahan tiket kami menjadi penerbangan malam ke Jakarta. Alhamdulillah kegiatan kami tanggal 19/7 ini berjalan dengan baik, dan kami bisa rehat malamnya untuk perjalanan ke Bukittinggi besoknya.

Perjalanan ke Bukittinggi di dampingi oleh dua orang staf kantor Provinsi, jadi total kami berlima di mobil. Perjalanan kesana dapat ditempuh antara 3-4 jam perjalanan dari Kota Padang dengan melewati beberapa Kabupaten/Kota, yaitu Padang Pariaman, Padang Panjang lalu masuk ke wilayah Bukittinggi.

Pagi itu kami mengawali perjalanan kami dengan terlebih dahulu sarapan di resto hotel tempat kami menginap. Habis sarapan kami nongkrong di lobby hotel sembari menunggu sopir yang akan mengantar kami ke Bukittinggi. Sementara Pak Dewo izin merokok ke smoking area.

“Bang Mul, izin sebatang dulu ya” pintanya padaku.

“Oh iya, monggo” balasku.

Finally, sopir kami datang dan go to Bukittinggi.

“Sory bang, saya telat datang” ujarnya sembari membuka pintu mobil.

“Oh, gak pa pa … santai saja, kita gak buru-buru kok” jawabku.

“Tadi ngantar teman-teman Abang ke Bandara” jelasnya merinci.

“Dina dkk ya yang hari ini pada balik ke Jakarta” sambar Pak Dewo.

Hari itu, Pak Dewo masih ragu. Apakah jam gadang di tutup atau tidak? Sebab sebelumnya dua orang teman mengatakan bahwa jam gadang di tutup karena sedang di renovasi. Tapi saya dan Pak Hilton tetap meyakinkan, bahwa di Bukittinggi itu tidak hanya jam gadang. Ada banyak hal disana yang bisa kita lihat dan gali.

Perjalanan darat kami cukup lancar pagi itu. Jalan antara Kota Padang – Bukittinggi tidak terlalu macet. Pemandangan juga sejuk pagi itu. Mobil produksi Jepang yang kami tumpangi melesat diantara gunung Singgalan dan Merapi meliuk-liuk menuju ke tujuan kami. Kami rehat sekali di padang panjang untuk beli cemilan dan menghabiskan sebatang rokok bagi yang ahli hisap.

Kurang lebih pukul 10.30 WIB kami sampai di kota bersejarah itu. Bukittinggi dalam landscape histografi Indonesia memiliki makna penting. Di era kolonial, Bukittinggi disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Kota ini pernah menjadi Ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (22 Desember 1948-13 Juli 1949) dibawah kendali Syafruddin Prawiranegara.

Ceritanya begini, pada saat itu Belanda menangkap Bung Karno dan Bung Hatta. Tetapi sebelum ditangkap, pada desember 1948 mereka sudah berembug dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk mengendalikan keadaan di masa darurat. Setelah Persetujuan Roem-Royen disepakati pada 1949, Syafruddin Prawiranegara mengembalikan mandatnya kepada Bung Karno – Bung Hatta.

Lubang Jepang

Oke kita skip sementara soal historitas Bukittinggi. Kita lanjut cerita perjalanannya. Kami mulai perjalanan dengan mengunjungi Lobang Jepang. Untuk masuk ke area ini pengunjung membayar tiket masuk – saya tidak ingat berapa kami bayar, karena dibayarin orang – ke pengelola di Taman Panorama.

Lobang bawah tanah ini panjang (sejumlah sumber mencatat 1400-an meter) dan memiliki banyak kelok, saking banyaknya saat balik ke tempat kami masuk sempat salah jalan. Bungker ini sendiri dibangun oleh pekerja Romusho (kerja paksa) dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi dibawah kendali Moritake Tanabe. Di bangun tahun 1942 untuk pertahanan menghadapi sekutu. Lobang ini dijadikan sebagai tempat untuk menyimpan amunisi dan persenjataan perang.

Jam Gadang dan Nasi Kapau

Puas mengeksplore sisa-sisa kekejaman bangsa Nippon itu, kami menuju ke Jam Gadang. Di kawasan jam gadang kami melihat-lihat area itu sembari berfoto. Ada banyak sekali pengunjung yang juga berfoto di jam gadang. Puas berfota, kami ke arah pasar atas. Di sana kami makan siang nasi kapau.

“Nasi Kapau ini khas disini” jelas Uni Eri yang menemani kami jalan-jalan.

“Dulu waktu Pimpinan datang kesini, sebenarnya mau saya ajak kesini juga. Tapi pertimbangan tempatnya yang begini akhirnya kami cari tempat lain” pungkasnya.

Usai makan siang, kami lalu bergegas sholat dzuhur. Saya sekalian jamak dengan ashar.

Rumah Bung Hatta

Perjalanan berikutnya kami menuju ke Rumah Bung Hatta. Rumah ini dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dalam bentuk museum yang terbuka untuk umum (pukul 08.00 – 18.00).

“Rumah ini bukan lagi rumah asli Bung Hatta. Yang saat ini adalah replika” jelas penjaga yang menjadi pamandu di museum itu.

Di kamar bung Hatta yang disebut kamar bujang, karena kamar itu di pakai oleh sang proklamator saat masih kecil dan sekolah. Ukuran kamarnya tidak terlalu besar, hanya ada ranjang, meja tulis dan lemari buku.

“Bung Hatta itu sangat suka membaca, bahkan sejak kecil” terang si pamandu museum itu.

“Sabang sore, Hatta kecil akan duduk di beranda rumahnya sembari menghadap rel kereta” ungkapnya.

Apa yang menarik dari perjalanan ke Rumah Bung Hatta, yaitu soal bagaimana kegemaran Hatta membaca. Barangkali karena itu ia menjadi berkaca mata. Pemandu museum juga menceritakan kepada kami bahwa, salah satu yang berperan penting dalam perjalanan intelektualnya adalah pamannya yang membiayai sekolah Hatta hingga pergi ke Negeri Belanda untuk sekolah tingkat sarjana.

Jadi bagi kita ini generasi baru, hendaknya bisa mengambil hal-hal positif dari Bung Hatta. Seperti kecintaannya dengan buku, sehingga kemudian ketika Hatta terjun ke dunia pergerakan wacananya jadi bermutu dan mencerminkan bagaimana dialektika intelektual mempengaruhi alam pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *